Andaleh – Banjir Sumbar akibat bencana hidrometeorologi terus meluas dalam beberapa hari terakhir. Hingga Rabu (26/11/2025), bencana ini berdampak di 13 kabupaten/kota termasuk Padang, Padang Pariaman, Agam, dan Pasaman Barat. Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mengonfirmasi bahwa bencana ini juga menimbulkan korban jiwa.
Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, menjelaskan bahwa sejak beberapa hari terakhir, cuaca ekstrem memicu banjir, angin kencang, dan tanah longsor di berbagai wilayah. “Durasi cuaca ekstrem di Sumbar lebih panjang dari perkiraan. Masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti arahan petugas,” ujarnya.
BMKG Perpanjang Peringatan Bahaya Hidrometeorologi
BMKG Minangkabau sebelumnya telah mengeluarkan peringatan melalui rilis No. 3.B/ME.02.04/939.KPDG/XI/2025 yang berlaku 21–27 November. Namun, perkembangan bibit siklon tropis 95B membuat BMKG memperpanjang masa peringatan hingga 29 November melalui rilis No. e.B/ME.02.04/042/KPDG/XI/2025.
Peringatan ini menegaskan bahwa dinamika atmosfer masih berpotensi memicu hujan intensitas tinggi di Sumatra Barat.
Padang – 27.433 Warga Terdampak
Banjir di Kota Padang menjadi salah satu yang terparah. BPBD Padang melaporkan 27.433 warga terdampak dari 9 kecamatan. Kecamatan Koto Tangah menjadi wilayah dengan dampak terbesar, yakni 20.983 warga.
Kerusakan sementara yang terdata meliputi:
- 2 rumah hanyut
- 61 rumah rusak sedang
- 17 rumah rusak ringan
- 1 rumah ibadah rusak ringan
- 2 lokasi jalan longsor
- 2 petak sawah rusak berat
BPBD menegaskan bahwa pendataan masih berlangsung dan akan terus diperbarui.
Agam – 13 Kecamatan Terdampak dan 1 Warga Meninggal
Di Kabupaten Agam, bencana banjir, angin kencang, dan longsor meluas dari sebelumnya 8 kecamatan menjadi 13 kecamatan. Hujan intensif terjadi sejak 22–25 November.
Seorang warga bernama Daud (35) meninggal dunia akibat tertimbun longsor di Kecamatan Palupuh. BPBD setempat juga menetapkan status tanggap darurat karena kerusakan terus meluas dan pendataan masih berjalan.
Pasaman Barat – 1 Anak Tewas Tertimbun Longsor
Di Pasaman Barat, bencana terjadi di 10 dari 11 kecamatan. Seorang anak bernama Roki (14) meninggal dunia akibat longsor di Jorong Muaro Mais, Kecamatan Ranah Batahan.
Selain itu, puluhan hingga ratusan hektare sawah di Agam dan Pasaman Barat mengalami kerusakan akibat terendam banjir.
Solok – 1.279 Jiwa Terdampak
Di Kabupaten Solok, bencana hidrometeorologi berdampak pada 559 KK atau 1.279 jiwa, termasuk 93 balita dan 62 lansia.
Pendidikan Terganggu: 23 Sekolah Diliburkan
Di Pasaman Barat, 23 sekolah diliburkan akibat banjir. Keputusan ini tertuang dalam surat keputusan Bupati nomor 100..3.3.2/623/BUP-PASBAR/2025. Siswa belajar dari rumah sejak 26–29 November.
Status Tanggap Darurat Provinsi Ditetapkan 25 November – 8 Desember
Pemerintah Provinsi Sumatra Barat menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Alam selama 14 hari, dari 25 November hingga 8 Desember 2025. Penetapan ini berdasarkan SK Gubernur nomor 360-761-2025.
Lima daerah sebelumnya telah menetapkan status tanggap darurat lebih dahulu, yaitu Padang Pariaman, Agam, Pesisir Selatan, dan Kota Bukittinggi. Kini status itu diberlakukan untuk seluruh wilayah Sumbar.
Arry Yuswandi menegaskan, “Dengan 13 kabupaten/kota terdampak, penetapan status tanggap darurat sangat diperlukan dan dapat diperpanjang sesuai kondisi lapangan.”





